curahan wanita

usah kau merajuk,  karena aku selalu perhatikan apa yang tak kau tau. aku mengerti apa yang tak kau pahami. jika kau berfikir aku cuek. kau tak mengenaliku.

senyum ku bukan berarti aku bahagia, tangis ku pun tak berarti ku sedih

 ah, wanita memang penuh kepura puraan

aku penuh dusta, dusta demi kau bahagia, makan kenyang, tidur pulas itu buat  ku bisa senyum

 

snowgirls

snowgirls

kebersamaan anak anak alay

bentang kawasan kars pegunungan sewu

MUSEUM KARS INDONESIA CERMINAN KARS BANGSA

Museum Kars Indonesia merupakan hasil dari pengembangan aset sumber daya alam yang berada di Kawasan Kars Pegunungan Sewu (Pegunungan Seribu). Pada tanggal 6 Desember 2004 di Kabupaten Gunung Kidul Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, INDPresiden RI Susilo Bambang Yudhoyono, menetapkan Kawasan Kars Gunung Sewu sebagai Kawasan Eco karst. Kemudian pada akhir tahun 2005 dikeluarkan Intruksi Preiden Nonor 16 tentang Kebujakan Pembangunan Kebudayaan Dan Pariwisata, diantaranya mengintruksikan kepada Mentri Energi Dan Sumber Daya Mineral untuk mengembangkan Kawasan Karst sebagai daya tarik wisata. Berdasar hal tersebut tahun 2008 Departmen ESDM c.q Badan Geologi bersama Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dan Pemerintah Kabupaten Wonogiri telah membuat kesepakatan bersama, yang pada prinsipnya bersepakat untuk mewujudkan terbangunnya Museum Kars Indonesia. Tanggal 30 juni 2009 Museum Kars Indonesia diresmikan oleh Presiden RI dengan ditandatanganinya Prasasti Museum Kars Indonesia di Kabupaten Sragen Jawa Tengah, bersama dengan Peresmian Techo Park Industry di Sragen.

 

Museum Kars Indonesia terletak di Desa Gebang Harjo, Kecamatan Pracimantoro, Kabupaten Wonogiri; kurang lebih 45km dari kota Wonogiri.

Konsep pembangunan Museum Kars Indonesia memadukan bngunan fisik dan lingkungan alam disekitarnya merupakan proyeksi dari kegiatan indoor dan outdoor. Kawasan diluar Museum, baik yang terletak di Kabupaten Gunung Kidul (DIY), Kabupaten Wonogiri (Jawa Tengah), maupun Kabupaten Pacitan (Jawa Timur), Termasuk dalam kesatuan ekosistem.

            Kawsan Museum Kars Indonesia mempunyai luas 24,6 Ha yang membentuk lembah diantara bukit-bukit kars yang dikelilingi beberapa

  1. Gua Tembus mempunyai panjang lorong 50m, serta mempunyai dua mulut gua.
  2. Gua Sodong dengan lorong yang panjang mempunyai stalaktit dan stalakmit yang masih hidup, dan mempunyai sungai bawah tanah serta sumur air yng telah dimanfaatkan oleh Masyarakat Dusun Mudal.
  3. Gua Potro-Bunder mempunyai batuan stalaktit dan stalakmit dan kristal kalsit yang khas.
  4. Luweng Sapen merupakan luweng vertikal dengn sungai bawah tanah yang telah diturap untuk memenuhi kebutuhan warga dan Museum Kars Indonesia.
  5. Gua Gilap merupakan bentukan dolina dengan tebing vertikal sert mempunyai tebing stalaktit yang unik dan mempunyai gua didasar dolina yang belum tereksplorasi.
  6. Disamping itu ad dua gua kecil (ceruk), yaitu gua mrica dan gua sonya ruri. 1

[1]

Berdasarkan sumber lisan metode wawancara permasalahan yang dihadapi oleh Museum Kars Indonesia diantaranya adalah kurang nya penerangan pada gua-gua kawasan Kars tersebut, hal tersebut menjadi alasan enggan nya pengunjung untuk masuk dalam gua yang memiliki lorong panjang selain gelap gua juga licin karena tetesan dari stalaktit gua.

jarang ada transportasi umum yang melintas sekitar kawasan Kars kecuali ini mbus jurusan Yogyakarta-Batu (wonogiri) juga menjadi kendala kenajuan Museum Karst Indonesia karena pengunjung tidak dapat mengakses jalur menuju museun jika menggunakan transportsi umum.

Upaya meningkatkan kualitas Museum Kars Indonesia tidak pernah berhenti, berbagai pembangunan telah dilaksanakan setelah berdirinya bangunan utama dari Museum Kars Indonesia

Upaya tersebut antara lain pembangunan WC umum dan perbaikan jalan akses menuju gua-gua kawasan Kars, rencana pembangunan lima jagad spiritual yang merupakan tempat bersembayang lima agama di Indonesia. Pembngunan yang sudah terlaksana dia antaranya ialah Masjid dan Pura.

 

 


[1] Panduan Museum Karst Indonesia (wonogiri:mseum kars indonesia, 2013),hlm 1-12

  1. Rumah adat jawa

Rumah tradisional adalah bangunan rumah yang memiliki bentuk, ruang, fungsi, struktur, ragam hias dan cara pembuatan yang diwariskan turun temurun sesuai dengan tradisi dan kehidupan sehari-hari.

Rumah tradisional jawa mempunyai bentuk tertentu yang diwariskan secara turun temurun sesuai dengan budaya jawa. Rumah adat jawa merupakan arsitektur tradisional masyarakat jawa yangberkembang sejak abad ke-13 M, terdiri atas lima tipe dasar (pokok) yaitu:

v  Joglo (atap joglo)

v  Limasan (atap limas)

v  Kampung (atap pelana)

v  Panggang pemasjidan /tajuk

  1. A.    Rumah adat Joglo

Bangunan joglo banyak di jumpai pada arsitektur jawa tengah. Joglo merupakan kerangka bangunan utama dari rumah tradisional jawa, yang terdiri dari soko guru berupa empat tiang utama penyangga struktur bangunan serta tumpang sari yang berupa susunan balok yang di sangga soko guru.

      Pada umumnya, rumah joglo hanya dimiliki oleh orang-orang yang berkemampuan materi lebih. Selain karena rumah joglo membutuhkan bahan materi yang banyak dan mahal, pemilik rumah joglo juga merupakan pelambang sosial di masyarakat. Pemilik rumah joglo pada masyarakat jawa umumnya dari kalangan bangsawa.

      Ruangan pada rumah joglo pada umumnya dibagi dalam tiga bagian, bagian pertama adalah ruang pertemuan yang disebut pendhopo. Bagian kedua adalah ruang tengah atau ruang untuk mengadakan pertunjukan wayang kulit, disebut pinggitan. Bagian ketiga adalah

Ruang belakang yang disebut ruang  ndalem atau omah jero, dan digunakan sebagai ruang keluarga. Dalam ruangan ini terdapat tiga kamar yang disebut dengan senthong kanan, senthong tengah, dan senthong kiri.

ü  Fungsi ruangan pada rumah joglo

Pendopo memiliki fungsi sebagai tempat menerima tamu, struktur bangunan pada pendopho menggunakan umpak sebagai alas soko, empat buah soko guru ( tiang utama ). Ndalem adalah pusat rumah joglo fungsi utamanya sebagai ruang keluarga. Pada pola tata ruang ndalem terdapat perbedaan ketinggian lantai, sehingga membagi ruang menjadi dua area. Pada lantai yang lebih tinggi digunakan sebagai tempat keluar masuk udara, sedangkan pada  agian yang lebih rendah digunakan sebagai ruang kelyarga dan senthong.

ü  Filosofi rumah joglo

Rumah joglo umumnya terbuat dari kayu jati. Sebutan joglo mengacu pada bentuk atapnya, mengambil stilasi bentuk gunung bertujuan untuk pengambilan filosofi yang terkandung didalamnya dan diberi nama atap tajug, untuk rumah hunian atapnya terdiri dari dua tajug yang disebut atap joglo. Dalam kehidupan orang jawa gunung merupakan sesuatu yang tinggi dan disakralkan dan banyak dituangkan dalam berbagai simbol, khususnya untuk simbol-simbol yang berkenaan dangan sesuatu yang magis atau mistis. Hal ini karena adanya pengaruh kuat keyakinan bahwa gunung atau tempat yang tinggi adalah tempat yang dianggap suci dan tempst tinggsl para dewa.

Pengaruh kepercayaan animisme, hindu dan budha masih sangat kental mempengaruhi bentuk dan tata ruang  rumah joglo tersebut contohnya dalam rumah adat joglo umumnya sebelum masuk ruangan induk akan melewati pintu yang memiliki hiasan sulur gelung atau makara. Hiasan ini ditunjukan untuk tolak bala, menolak maksud-maksud jahat dari ;luar, hal ini masih dipengaruhi oleh kepercayaan animisme.

Kamar tengah merupakan kamar sakral dalam kamar ini pemilik rumah biasanya menyediakan tempat tidur dilengkapi dengan bantal guling, cermin dan sisir dari tanduk. Umumnya dilengkapi dengan lampu yang menyala siang dan malam yang berfungsi sebagai pelita, serta ukiran yang memiliki makna sebagai pendidikan rohani, hal ini masih dalam pengaruh ajaran hindu dan budha.

Rumah joglo juga menyiratkan kepercayaan kejawen masyarakat jawa yang berdasarkan sinkritisme. Keharmonisan hubungan antara manusia dengan sesamanya serta hubungan manusia dengan lingkungan alam sekitarnya.

Arsitektur rumah joglo menyiratkan pesan-pesan kehidupan manusia terhadap kebutuhan “papan”. bahwa rumah bukanlah tempat berteduh tetapi juga merupakan perluasan dari diri manisia itu sendiri. Berbaur harmoni dengan alam disekitarnya.

ü  Jenis rumah joglo

  • Joglo lawakan
  • Joglo sinom
  • Joglo jompongan
  • Joglo pangrawit
  • Joglo mangkurat

 

  1. B.     Rumah adat limasan

Selain rumah joglo rumah adat jawa adalah limasan, rumah tradisional ini sudah ada sejak jaman nenek moyang suku jawa, terbukti dengan adanya relief yang menggambarkan keberadannya. Rumah limasan mengandung falsafah yang syarat makna dan nilai-nilai sosialkultural, memiliki desain yang sederhana dan estetis. Kelebihan lain dari arsitektur ini dapat meredam gempa.

ü  Ciri-ciri rumah limasan

Bangunan ini memiliki ciri khas dengan pemakaian konstruksi atap yang kokoh dan berbentuk lengkung-langkung yang terpisah –pada satu ruang dengan ruang lainnya, rumah limasan memiliki empat tiang utama.

Bangunan tradisional limasan banyak memakai elemen natural. Kemempuannya dalm meredam gempa karena sistem struktur yng digunakan. Struktur limasan berupa rangka yang memperlihatkan batang-batang kayu yang disusun dengan menerapkan bentuk kubus beratap limas. Hal ini didasarkan pada sistem dan sifat sambungan kayu yang digunakan, semua bersifat mengantisipasi gaya tarik.

ü  Jenis-jenis rumah limasan

  1. Jenis limasan lambang sari

Merupakan rumah limasan yang mempunyai ciri khas yaitu pada konstruksi pembentuk atapnya, dimana terdapat balok penymbung antara atap berunjung dengan atap penanggap. Tiang yang digunakan sebanyak 16 buah, atap bangunan ini memiliki 4 sisi yang masing-masing mempunyai bentuk bersusun dua buah, hal tersebut dikarenakan terdapat renggangan di antara kedua belah atap berujung dan penanggapnya. Bangunan ini mempunyai satu buah bubungan atau wuwung yang menghubungkan keseluruahan 4 buah sisi atap tersebut.

Bangunan ini dibangun menggunakan kayu yang keras dan berserat kuat, kayu tersebut adalah kayu jawa yaitu kayu yang berasal dari tanah pulau jawa. Jenis kayu tersebut seperti kayu jati, kayu sonokelingkayu nagka dsb. Bangunan ini menggunakan pondasi jenis umpak yang mempunyai ciri khusus menggunakan purus pada bagian tengah tiang bawah yang berfungsi sebagai pengunci tiang atau kolom.

  1. Jenis rumah limasan trajumas lawakan

Rumah tradisional  jawa ini merupakan perkembangan dari rumah tradisional model  limasan trajumas yang megalami penambahan pada penggunaan emper yang mengelilingi bangunan nya. Empat keliling ini mempunyai sudut kemiringan yang berbeda dari bagian pokok nya. Bangunan ini tetap menggunakan tiang bagian tengah nya. Hal ini membuat terbentuknya dua buah rong-rongan pada bagian dalam nya. Bangunan ini menggunakan 20 buah tiang atau saka sebagai struktur utama.

  1. Jenis rumah limasan trajumas

Merupakan rumah tradisional limasan yang hanya mempunyai 6 buah tiang, 4 buah sisi atap bentuk sederhana ini merupakan kontruksi rumah yang utuh dan unik sehingga sering di kolaborasikan dengan rumah modern sebagai gazebo yang berdiri sendiri secara terpisah dengan rumah induk.

  1. Jenis rumah limasan lambang gantung

Rumah limasan ini mempunyai emper yang menempel langsung pada tiang utama. Rumah ini menggunakan tiang 8 atau 10 buah, 4 sisi atap yang tersusun secara berenggangan sehingga sirkulasi udara dapat masuk pada bagian yang renggang tersebut. Dan mempunyai wuwung sebagai atap nya.

 

  1. Jenis rumah limasan gajah ngombe

Merupakan rumah tradisional jawa bentuk limasan yang telah mengalami  penambahan atap sebagai emper pada sisi pendeknya. Mempunyai tiang sebanyak 6, 8, 10buah dan seterusnya yang disesuaikan dengan besarnya bangunan, bangunan ini mempunyai sebuah wuwung dan 4 buah dudur serta 4 buah sisi atap .

  1. C.    Rumah Adat Kampung

Rumah bentuk kampung adalah rumah dengan denah empat persegi panjang, bertiang empat dengan dua atap persegi panjang pada sisi samping atas ditutup dengan tutup keyong. Rumah ini kebanyakan dimiliki oleh orang kampung atau orang jawa menyebutnya orang desa.

ü  Rumah bentuk kampung dapat dibedakan menjadi :

  1. Rumah kampung pokok
  2. Rumah kampung pacul gowang
  3. rumah kampung dara gepak
  4. rumah kampung gotong mayit
  5. rumah kampung kabang nyander
  6. rumah kampung apitan
  7. rumah kampung lambang teplok semar tinandu
  8. rumah kampung gajah ngombe
  9. rumah kampung gajah njerum
  10. rumah kampung lambang teplok
  11. rumah kampung cere gencet
  12. rumah kampung trajumas
  13. rumah kampung semar pinando
  14. D.    rumah adat bentuk masjid dan tajug

Adalah rumah yang mempunyai denah bujursangkar, dan bentuk inilah yang mempertahan kan bentuk aslinya hingga sekarang. Rumah bentuk masjid dan tajuk mempunyai beberapa tipe.

ü  Rumah bentuk masjid dan tajug dapat dibedakan :

  1. Tajug towan boni
  2. Masjid dan cungkup
  3. Tajug semar sinongsong
  4. Tajug lambang sari
  5. Tajug tiang satu lambang teplok
  6. Tajug lambang gantung
  7. Masjid lawakan
  8. Tajug semar tinandu
  9. Tajug ceblokan
  10. Tajug mangkurat
  11. Tajug lawakan lambang teplok
  12. Masjid lambang teplok
  13. Tajug semar sinongsong lambang gantung dsb.
  14. E.     Rumah adat jaw panggang pe

Panggang artinya dipanaskandi atas bara apisedangkan pe artinya dijemur. Rumah panggang pe merupakan bangunan kecil yang terdiri dari sebuah atap dengan empat buah tiang atau lebih yang biasanya diatasnya digunakan untuk menjemur barang-barang.

 

ü  Rumah panggang pe dibedakan menjadi :

  1. Rumah panggang pe pokok
  2. Rumah panggang pe bentuk gudang
  3. Rumah panggang pe barengan
  4. Rumah panggang pe trajumas
  5. Rumah panggang pe gedang selirang
  6. Rumah panggang pe empyak setangkep
  7. Rumah panggang pe bentuk kios
  8. Rumah panggang pe kodokan
  9. Rumah panggang pe cere gence
  10. Rumah panggang pe gedang setangkep empyak setangkep

raja-raja demak

Raden Patah adalah pendiri dan sultan pertama dari kerajaan Demak yang memerintah tahun 1500-1518 (Muljana: 2005). Menurut Babad Tanah Jawi, Raden Patah adalah putra prabu Brawijaya raja terakhir. Di ceritakan prabu Brawijaya selain kawin dengan Ni Endang Sasmitapura, juga kawin dengan putri cina dan putri campa. Karena Ratu Dwarawati sang permaisuri yang berasal dari Campa merasa cemburu, prabu Brawijaya terpaksa memberikan putri Cina kepada putra sulungnya, yaitu Arya Damar bupati Palembang. Setelah melahirkan Raden Patah, setelah itu putri Cina dinikahi Arya Damar, dan melahirkan seorang anak laki-laki yang diberi nama Raden Kusen. Demikianlah Raden Patah dan Raden Kusen adalah saudara sekandung berlainan bapak.( Muljana: 2005). Menurut kronik Cina dari kuil Sam Po Kong, nama panggilan waktu Raden Patah masih muda adalah Jin Bun, putra Kung-ta-bu-mi (alias Bhre Kertabhumi) atau disebut juga prabu Brawijaya V dari selir Cina.
Babad Tanah Jawi menyebutkan, Raden Patah dan Raden Kusen menolak untuk menuruti kehendak orang tuanya untuk menggantikan ayahnya sebagai adipati di Palembang. Mereka lolos dari keraton menuju Jawa dengan menumpang kapal dagang. Mereka berdua mendarat di Surabaya, lalu menjadi santri pada Sunan Ngampel.( Muljana: 2005). Raden Patah tetap tinggal di Ngampel Denta, kemudian dipungut sebagai menantu Sunan Ngampel, dikawinkan dengan cucu perempuan, anak sulung Nyai Gede Waloka. Raden Kusen kemudian mengabdi pada prabu Brawijaya di Majapahit. Raden Kusen diangkat menjadi adipati Terung, sedangkan Raden Patah pindah ke Jawa Tengah, di situ ia membuka hutan Glagahwangi atau hutan Bintara menjadi sebuah pesantren dan Raden Patah menjadi ulama di Bintara dan mengajarkan agama Islam kepada penduduk sekitarnya. Makin lama Pesantren Glagahwangi semakin maju. Prabu Brawijaya di Majapahit khawatir kalau Raden Patah berniat memberontak. Raden Kusen yang kala itu sudah diangkat menjadi Adipati Terung diperintah untuk memanggil Raden Patah. Raden Kusen menghadapkan Raden Patah ke Majapahit. Brawijaya merasa terkesan dan akhirnya mau mengakui Raden Patah sebagai putranya. Raden Patah pun diangkat sebagai bupati, sedangkan Glagahwangi diganti nama menjadi Demak, dengan ibu kota bernama Bintara.
Menurut kronik Cina, Jin Bun alias Raden Patah pindah dari Surabaya ke Demak tahun 1475. Kemudian ia menaklukkan Semarang tahun 1477 sebagai bawahan Demak. Hal itu membuat Kung-ta-bu-mi di Majapahit resah. Namun, berkat bujukan Bong Swi Hoo (alias Sunan Ampel), Kung-ta-bu-mi bersedia mengakui Jin Bun sebagai anak, dan meresmikan kedudukannya sebagai bupati di Bing-to-lo atau Bintara ( Muljana: 2005).
Dalam waktu yang singkat, di bawah kepemimpinan Raden Patah, lebih-lebih oleh karena jatuhnya Malaka ke tangan portugis dalam tahun 1511, Demak mencapai puncak kejayaannya. Dalam masa pemerintahan Raden Patah, Demak berhasil dalam berbagai bidang, diantaranya adalah perluasan dan pertahanan kerajaan, pengembangan islam dan pengamalannya, serta penerapan musyawarah dan kerja sama antara ulama dan umara (penguasa). ( Muljana: 2005 ). Keberhasilan Raden Patah dalam perluasan dan pertahanan kerajaan dapat dilihat ketika ia menaklukkan Girindra Wardhana yang merebut tahkta Majapahit (1478), hingga dapat menggambil alih kekuasaan majapahit. Selain itu, Raden Patah juga mengadakan perlawan terhada portugis, yang telah menduduki malaka dan ingin mengganggu demak. Ia mengutus pasukan di bawah pimpinan putranya, Pati Unus atau Adipati Yunus atau Pangeran Sabrang Lor (1511), meski akhirnya gagal. Perjuangan Raden Patah kemudian dilanjutkan oleh Pati Unus yang menggantikan ayahnya pada tahun 1518. Dalam bidang dakwah islam dan pengembangannya, Raden patah mencoba menerapkan hukum islam dalam berbagai aspek kehidupan. Selain itu, ia juga membangun istana dan mendirikan masjid (1479) yang sampai sekarang terkenal dengan masjid Agung Demak. Pendirian masjid itu dibantu sepenuhnya oleh walisanga.
B. Adipati Unus (1518 – 1521)
Pada tahun 1518 Raden Patah wafat kemudian digantikan putranya yaitu Pati Unus. Pati Unus terkenal sebagai panglima perang yang gagah berani dan pernah memimpin perlawanan terhadap Portugis di Malaka. Karena keberaniannya itulah ia mendapatkan julukan Pangeran Sabrang lor. ( Soekmono: 1973). Tome Pires dalam bukunya Suma Oriental menceritakan asal-usul dan pengalaman Pate Unus. Dikatakan bahwa nenek Pate Unus berasal dari Kalimantan Barat Daya. Ia merantau ke Malaka dan kawin dengan wanita Melayu. Dari perkawinan itu lahir ayah Pate Unus, ayah Pate Unus kemudian kembali ke Jawa dan menjadi penguasa di Jepara. ( Muljana: 2005 ). Setelah dewasa beliau diambil mantu oleh Raden Patah yang telah menjadi Sultan Demak I. Dari Pernikahan dengan putri Raden Patah, Adipati Unus resmi diangkat menjadi Adipati wilayah Jepara (tempat kelahiran beliau sendiri). Karena ayahanda beliau (Raden Yunus) lebih dulu dikenal masyarakat, maka Raden Abdul Qadir lebih lebih sering dipanggil sebagai Adipati bin Yunus (atau putra Yunus). Kemudian hari banyak orang memanggil beliau dengan yang lebih mudah Pati Unus.
Tahun 1512 giliran Samudra Pasai yang jatuh ke tangan Portugis ( Muljana: 2005 ). Hal ini membuat tugas Pati Unus sebagai Panglima Armada Islam tanah jawa semakin mendesak untuk segera dilaksanakan. Maka tahun 1513 dikirim armada kecil, ekspedisi Jihad I yang mencoba mendesak masuk benteng Portugis di Malaka gagal dan balik kembali ke tanah Jawa. Kegagalan ini karena kurang persiapan menjadi pelajaran berharga untuk membuat persiapan yang lebih baik. Maka direncanakanlah pembangunan armada besar sebanyak 375 kapal perang di tanah Gowa, Sulawesi yang masyarakatnya sudah terkenal dalam pembuatan kapal. Di tahun 1518 Raden Patah, Sultan Demak I bergelar Alam Akbar Al Fattah mangkat, beliau berwasiat supaya mantu beliau Pati Unus diangkat menjadi Sultan Demak berikutnya. Maka diangkatlah Pati Unus atau Raden Abdul Qadir bin Yunus.
Armada perang Islam siap berangkat dari pelabuhan Demak dengan mendapat pemberkatan dari Para Wali yang dipimpin oleh Sunan Gunung Jati. Armada perang yang sangat besar untuk ukuran dulu bahkan sekarang. Dipimpin langsung oleh Pati Unus bergelar Senapati Sarjawala yang telah menjadi Sultan Demak II. Dari sini sejarah keluarga beliau akan berubah, sejarah kesultanan Demak akan berubah dan sejarah tanah Jawa akan berubah.Kapal yang ditumpangi Pati Unus terkena peluru meriam ketika akan menurunkan perahu untuk merapat ke pantai. Ia gugur sebagai Syahid karena kewajiban membela sesama Muslim yang tertindas penjajah (Portugis) yang bernafsu memonopoli perdagangan rempah-rempah.
Sedangkan Pati Unus, Sultan Demak II yang gugur kemudian disebut masyarakat dengan gelar Pangeran Sabrang Lor atau Pangeran (yang gugur) di seberang utara. Pimpinan Armada Gabungan Kesultanan Banten, Demak dan Cirebon segera diambil alih oleh Fadhlullah Khan yang oleh Portugis disebut Falthehan, dan belakangan disebut Fatahillah setelah mengusir Portugis dari Sunda Kelapa 1527. Di ambil alih oleh Fadhlullah Khan adalah atas inisiatif Sunan Gunung Jati yang sekaligus menjadi mertua karena putri beliau yang menjadi janda Sabrang Lor dinikahkan dengan Fadhlullah Khan.
C. Sultan Trenggono (1521 – 1546)
Sultan Trenggono adalah Sultan Demak yang ketiga, beliau memerintah Demak dari tahun 1521-1546 M. ( Badrika: 2006 ). Sultan Trenggono adalah putra Raden Patah pendiri Demak yang lahir dari permaisuri Ratu Asyikah putri Sunan Ampel ( Muljana: 2005 ). Menurut Suma Oriental, ia dilahirkan sekitar tahun 1483. Ia merupakan adik kandung Pangeran Sabrang Lor, raja Demak sebelumnya (versi Serat Kanda). Sultan Trenggono memiliki beberapa orang putra dan putri. Diantaranya yang paling terkenal ialah Sunan Prawoto yang menjadi raja penggantinya, Ratu Kalinyamat yang menjadi bupati Jepara, Ratu Mas Cempaka yang menjadi istri Sultan Hadiwijaya, dan Pangeran Timur yang berkuasa sebagai adipati di wilayah Madiun dengan gelar Rangga Jumena.
Sultan Trenggana Wafat / Mangkat Berita Sultan Trenggono wafat ditemukan dalam catatan seorang Portugis bernama Fernandez Mendez Pinto. Pada tahun 1546 Sultan Trenggono menyerang Panarukan, Situbondo yang saat itu dikuasai Blambangan. Sunan Gunung Jati membantu dengan mengirimkan gabungan prajurit Cirebon, Banten, dan Jayakarta sebanyak 7.000 orang yang dipimpin Fatahillah. Mendez Pinto bersama 40 orang temannya saat itu ikut serta dalam pasukan Banten. Pasukan Demak sudah mengepung Panarukan selama tiga bulan, tapi belum juga dapat merebut kota itu. Suatu ketika Sultan Trenggono bermusyawarah bersama para adipati untuk melancarkan serangan selanjutnya. Putra bupati Surabaya yang berusia 10 tahun menjadi pelayannya. Anak kecil itu tertarik pada jalannya rapat sehingga tidak mendengar perintah Trenggono. Trenggono marah dan memukulnya. Anak itu secara spontan membalas menusuk dada Trenggono memakai pisau. Sultan Demak itu pun tewas seketika dan segera dibawa pulang meninggalkan Panarukan.
Sultan Trenggana berjasa atas penyebaran Islam di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Di bawah Sultan Trenggana, Demak mulai menguasai daerah-daerah Jawa lainnya seperti merebut Sunda Kelapa dari Pajajaran serta menghalau tentara Portugis yang akan mendarat di sana (1527), Tuban (1527), Madiun (1529), Surabaya dan Pasuruan (1527), Malang (1545), dan Blambangan, kerajaan Hindu terakhir di ujung timur pulau Jawa (1527, 1546). Panglima perang Demak waktu itu adalah Fatahillah, pemuda asal Pasai (Sumatera), yang juga menjadi menantu Sultan Trenggana. Sultan Trenggana meninggal pada tahun 1546 dalam sebuah pertempuran menaklukkan Pasuruan, dan kemudian digantikan oleh Sunan Prawoto

D. Sunan Prawata (1546 – 1549)
Sunan Prawata adalah nama lahirnya (Raden Mukmin) adalah raja keempat Kesultanan Demak, yang memerintah tahun 1546-1549. Ia lebih cenderung sebagai seorang ahli agama daripada ahli politik. Pada masa kekuasaannya, daerah bawahan Demak seperti Banten, Cirebon, Surabaya, dan Gresik, berkembang bebas tanpa mampu dihalanginya. Menurut Babad Tanah Jawi, ia tewas dibunuh oleh orang suruhan bupati Jipang Arya Penangsang, yang tak lain adalah sepupunya sendiri. Setelah kematiannya, Hadiwijaya memindahkan pusat pemerintahan ke Pajang, dan Kesultanan Demak pun berakhir.
Sepeninggal Sultan Trenggana yang memerintah Kesultanan Demak tahun 1521-1546, Raden Mukmin selaku putra tertua naik tahta. Ia berambisi untuk melanjutkan usaha ayahnya menaklukkan Pulau Jawa. Namun, keterampilan berpolitiknya tidak begitu baik, dan ia lebih suka hidup sebagai ulama daripada sebagai raja. Raden Mukmin memindahkan pusat pemerintahan dari kota Bintoro menuju bukit Prawoto. Lokasinya saat ini kira-kira adalah desa Prawoto, Kecamatan Sukolilo, Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Oleh karena itu, Raden Mukmin pun terkenal dengan sebutan Sunan Prawoto.
Pemerintahan Sunan Prawoto juga terdapat dalam catatan seorang Portugis bernama Manuel Pinto. Pada tahun 1548, Manuel Pinto singgah ke Jawa sepulang mengantar surat untuk uskup agung Pastor Vicente Viegas di Makassar. Ia sempat bertemu Sunan Prawoto dan mendengar rencananya untuk mengislamkan seluruh Jawa, serta ingin berkuasa seperti sultan Turki. Sunan Prawoto juga berniat menutup jalur beras ke Malaka dan menaklukkan Makassar. Akan tetapi, rencana itu berhasil dibatalkan oleh bujukan Manuel Pinto.
Cita-cita Sunan Prawoto pada kenyataannya tidak pernah terlaksana. Ia lebih sibuk sebagai ahli agama dari pada mempertahankan kekuasaannya. Satu per satu daerah bawahan, seperti Banten, Cirebon, Surabaya, dan Gresik, berkembang bebas; sedangkan Demak tidak mampu menghalanginya.

Hello world!

Originally posted on siti fatimah:

Welcome to WordPress.com! This is your very first post. Click the Edit link to modify or delete it, or start a new post. If you like, use this post to tell readers why you started this blog and what you plan to do with it.

Happy blogging!

View original

PKL sejarah 2012 Universitas Diponegoro

mereka adalah teman teman saya

PKL sejarah 2012 Universitas Diponegoro

praktik kerja lapangan mahasiswa jurusan ilmu sejarah FIB UNDIP di adakan di Blitar,Malang dan mojokerto. rangkaian acara PKL tersebut di antara nya praktikum lapangan di candi panataran,singasari,kidal,jago dan situs trowulan yang besar area nya mencapai lebih dari satu kecamatan selain itu demi menyelamatkan nasionalisme mahasiswa, panitia mengadakan kunjungan ke makam bung karno di kota blitar. serangkaian acara tersebut di adakan kemarin pada 12-15 mei 2013 dengan peserta 98 mahasiswa dan di dampingi dua dosen jurusan ilmu sejarah.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 4,578 other followers