Pagelaran Wayang Kulit Sebagai Media Transmisi untuk Melestarikan Kebudayaan di Jawa Tengah

  1. Nilai, Norma dan Gagasan dari Seni Pertunjukan Wayang Kulit

 

Menurut rasser pertunjukan wayang kulit dan kisah – kisah pewayangan di Jawa sebelumnya merupakan suatu pertunjukan ritual untuk mengundang roh nenek moyang turun ke bumi agar menolong keturunannya yang masih hidup di dunia.[1] juga sebagai media untuk menyampaikan petuah-petuah dari nenek moyang mawayang buat hyang menceritakan tentang kisah-kisah nenek moyang dan merupakan kebudayaan Indonesia, sudah dimiliki oleh nenek moyang kita 3000 tahun yang lalu. Setelah kehadiran agama Hindu, cerita wayang berubah dari mitos kuno tradisional menjadi kisah Mahabarata dan Ramayana. Namun agaknya pengaruh Hindu itupun hanya mengenai lapisan luarnya saja. Tidak merubah inti hal-hal pokok dan latar belakang wayang.

Kisah epos Ramayana dan Mahabarata pada zaman hindu di kenal di Indonesia sekitar abad ke-7, yang akhirnya juga berkembang dan menjadi kisah-kisah karangan lepas yang asli dan khas Indonesia (Jawa) para keahlian para pujangga Jawa. Kisah-kisah caragan yang menceritakan tentang perjalanan hidup pada tokoh-tokoh dalam dunia wayang itupun lebih menonjolkan figur, sifat dan watak, dan tingkah laku manusia dalam berbagai bentuknya. Penggambaran dalam bentuk simbolis yang mencerminkan konfigurasi serta sifat dan watak manusia umum nya masih dilengkapi dengan simbol-simbol daya cipta, rasa dan karsa manusia yang menjadikan tokoh-tokoh wayang tersebut menjadi seolah-olah memiliki daya hidup dan kesadaran sewaktu dimainkan oleh dalang yang ahli, sehingga para penonton pertunjukan wayang terpukau dengan pertunjukan wayang tersebut. Emosi penonton terbawa larut dalam pertunjukan yang disaksikannya karena seolah-olah dibawa masuk menyaksikan dunia hitam-putih kehidupan nya sendiri beserta masyarakat sekelilingnya. Siapa benar akan nyata kebenarannya dan siapa salah akan terbukti kesalahannya dan tersingkir. Pada intinya keseluruhan kisah wayang tersebut mendeskripsikan hikayat hidup manusia seutuhnya.

Melalui kisah-kisah perwayangan itulah penonton dibawa larut kearah perjalanan hidup manusia sejak awal mula (purwa) hidupnya, sepanjang perjalanan kehidupannya (madya) kehidupannya dan sampai dengan akhir (wasana) perjalanan hidupnya. Menikmati pertunjukan wayang samalah kiranya dengan mempelajari bagaimana hidup di Dunia ini yang seharusnya, yang sesuai dengan tata pikir (logika), tata batin (psikologis), tata jiwa (psikiatri), dan tata laku (etika dan estetika). Namun kesemua tata hidup tersebut tidaklah digelar atau diajarkan secara terbuka dengan bahsa lugas yang bisa dipahami oleh semua orang, tetapi di gelar dengan bahasa yang halus / krama inggil, bahasa kawi, bahasa kawi, bahasa simbol yang harus dicari makna yang tersirat.[2] Pada intinya lakon dari wayang kulit mengandung nilai pendidikan tentang:

  1. Hal ikhwal tata pemerintahan
  2. Tata pergaulan hidup
  3. Tata kehidupan manusia di hadapan sang pencipta
  4. Pembentukan watak manusia
  5. Konsepsi ilmu serba daya (kekuatan) fisik dan batin manusia[3]

 

Sebagaimana diungkapkan oleh Kanti Waluya (2000: 6-7) wayang adalah refleksi dari budaya Jawa, dalam arti pencerminan dari kenyataaan kehidupan. Nilai dan tujuan kehidupan, moralitas, harapan-harapan  dan cita-cita kehidupan orang Jawa, melalui cerita wayang masyarakat Jawa memberi gambaran kehidupan mengenai bagaimana hidup sesungguhnyadan bagaimana hidup itu seharusnya. Cerita wayang dan karakter tokoh-tokoh wayang mencerminkan bagaimana dari situasi konkrit dalam kenyataan hidup masyarakat Jawa.

Pagelaran wayang diakui sebagai karya budaya adiluhung ( bernilai tinggi) karena merupakan rangkuman dari berbagai macam seni budaya (seni tutur kata/lisan, seni musik, seni suara, seni drama boneka) yang dipentaskan bersama secara serasi mengikuti alur waktu, keadaan dan tempat dalam pementasan itu. Dalang yang menjadi sutradara tenaga yang berkualitas yang mampu mengatur alur kisah baku menjadi bermacam variasi sesuai keadaan zaman dan situasi saat itu. Pagelaran wayang adalh hasih dari suatu organisasi yang dikelola dengan managemen yang prima, berdisiplin tinggi, kompak, luwes dan telah teruji melalui siklus dari perencanaan,pelaksanaan, pengendalian serta evaluasinya, sehingga selalu direvisi, direformasi dan direposisi secara terus menerus sepanjang keberadaannya.

Kisah pewayangan dapat dikatakan sebagai karya sastra abadi yang telah teruji oleh zaman dan pagelaran wayang kulit purwa adalah bangun budaya karya manusia yang diciptakan atas dasar kemampuan oleh pikir dan olah batin sehingga ia mampu menjadi karya abadi dan bisa beradaptasi dengan kehendak zaman. Berbeda dengan hasil karya manusia lainnya yang hanya berdasar kepada kemampuan lahiriah yakni oleh pikir tanpa dibarengi (budi, roh, jiwa) manusia.

 

  1. Konteks Aktivitas Berpola dari Pagelaran Wayang Kulit

Dalam pagelaran wayang kulit aktivitas yang ada yakni melakukan pagelaran atau pertunjukan wayang kulit dengan kisah pewayangan yang telah ditentukan oleh sang Dalang. di Jawa Tengah pertunjukan wayang kulit biasanya diselenggarakan ketika ada bersih desa taupun hajatan perseorangan, orang Jawa yang berniat meyelenggarakan pagelaran ini harus di selenggarakan jika sampai akhir masa hidupnya tidak melakukan nya maka janji nya akan tetap di tagih atau akan celaka keturunannya.

Wayang mengalami sejarah perjalanan yang panjang dalam dunia wayang dikenal adanya wayang purwa, wayang madya, wayang gedong, wayang menak, wayang babad dan wayang topeng.

  • Wayang purwa adalah pertunjukan wayang yang mementaskan cerita berseumber pada kitab mahabarata dan ramayana wayang tersebut dapat berupa wayang kulit, wayang orang dan lain-lain, kata purwa berasal dari parwa yang berarti bagian dari cerita mahabarata dan ramayana.
  • Wayang madya merupakan kombinasi pertunjukan wayang purwa dan wayang gedong yang ceritanya menyambungkan antara cerita ramayana dan mahabarata dengan zaman jenggala cerita yang bersumber pada cerita panji.
  • Wayang gedong ialah cerita wayang yang inti ceritanya berseumber pada cerita panji, maupun kisah kepahlawanan. Bentuk wayang yang dipergunakan dalam pertunjukan tersebut ada yang terbuat dari kulit dan ada yang terbuat dari beber, ada pula yang bentuknya terbuat dari kayu pipih yang di ukir dan di sungging.
  • Wayang menak adalah pertunjukan wayang yang ceritanya bersumber pada cerita menak dan wujud wayangnya terbuat dari kulit yang ditatah dan disungging seperti halnya wayang kulit purwa.
  • Wayang babad merupakan wayang yang ceritanya berasal dari cerita-cerita babad (sejarah) setelah masuknya agama islam di Indonesia, diantaranya kisah-kisah kepahlawanan dalam masa kerajaan Demak dan Pajang.
  • Wayang modern adalah pertunjukan wayang yang dimaksudkan dengan tujuan-tujuan tertentu, yang termasuk dalam wayang ini adalah wayang wahana yaitu pertunjukan wayang yang ceritanya bersember pada cerita-cerita zaman sekarang, sehingga juga disebut wayang sandiwara.
  • Sedangkang yang disebut dengan wayang topeng adalah pertunjukan wayang yang para peraganya menggunakan topeng. Pertunjukan ini sudah ada sejak abad VIII M, yang di prsasti kuti (840M) disebut dengan kata haringgit.

Di Surakarta yang disebut dengan wayang kulit adalah wayang kulit purwa, yaitu pertunjukan wayang yang bonekanya dibuat dari kulit , dengan cerita yang bersumber dari cerita ramayana dan mahabarata, beserta sempalan maupun carangan-nya. Secara tradisi pergelaran wayang kulit dilakukan semalam suntuk yaitu dari pukul 21.00 sampai pukul 06.00 WIB, yang dibagi menjadi tiga tahap yaitu 1. Patet nem yang berlangsung dari pukul 21.00 sampai 24.00 WIB, 2. Patet sanga yang berlangsung dari pukul 24.00-03.00, patet manyura yang berlangsung dari pukul 03.00-06.00. menurut dalang muda Ki RT. Ir. Warsena, M.Si. (Slank) pembagian tahapan dalam pagelaran wayang kulit dibagi menjadi tiga bagian yaitu patet nem: masa lahir, patet sanga: masa dewasa dan patet  manyura: masa kematian.

Seni pertunjukan wayang merupakan tontonan yang sekaligus juga berfungsi sebagai tuntunan manusia agar menjadi manusia yang lebih baik lagi contohnya mellui tokohnya, tokoh yang baik, adil dan bijaksana akan menjadi tokoh yang faforit dan lambat laun mereka akan menjalankan kehidupan mereka (penonton) seperti dalam tokoh tersebut.

Dalam aktivitas perwayangan sekarang ini tampaknya seni pertunjukan wayang semakin kehilangan jati dirinya. Banyak dalang yang sengaja mengkomunikasikan wayang nya dengan nilai rendah namun ironis nya dengan begitu dalang bisa mendapatkan harga yang tinggi, ada dalang yang merasa laku karena keberaniannya untuk misuh (berkata jorok), ada dalang yang laku karena keberanian untuk nyebal pakem (menyimpang dari aturan).

Kondisi semacam ini cukup mebuat banyak pihak merasa prihatin hal itu sebagaimana diungkakan Ki Warseno Gunasukasno, bahwa seni pedalangan sekarang dalam kondisi memprihatinkan.[4]

  1. Wujud Benda (artifacts) Pagelaran Wayang Kulit

 

Wujud simbolisme tokoh-tokoh wayang tercermin dari warna-warna yang digunakan untuk mengecat wajah dan pakaian masing-masing tokoh wayang, sesuai dengan gambaran atau simbol gambaran hidup yang menggambarkan sifat, watak dan tingkah laku dan kemampuan yang dimiliki oleh para tokoh wayang tersebut. Tokoh wayanag seperti Dewi-Dewi wajah nya di beri cat warna putih, sedangkan tokoh wayang yang berperan menjadi jahat dicat dengan warna merah menyala lain lagi dengan tokoh ksatria wajahnya di cat dengan warna kuning emas.[5]

Unsur artefak lain yang ada dalam pagelaran wayang kulit yaitu benda-benda atau barang yang digunakan untuk penunjang pagelaran wayang kulit diantaranya yaitu

  • Wayang kulit jawa tentunya terbuat dari kulit, pada umumnya terbuat dari kulit sapi nam. Proses pembuatan nya pun cukup lama, mulai direndal lalu digosok terus dipentang supaya tidak kusut lalu di bersihkan bulu-bulunya. Lalu setelah itu baru diberi pola sesuai dengan gambar pola, dan terakhir diwarnai, jadilah wayang hasil kreasi seni pahat dan seni lukis.
  • Kelir adalah layar lebar yang digunakan pada pertunjukan wayang kulit. Pada rumah joglo, kelir dipasang pada bagian ‘pringgitan’. Bagian ini merupakan bagian peralihan dari pada ranah publik, pendopo dengan ranah privasi, ndalem atau nggandok. Oleh karena itu penonton wayang kulit yang tergolong keluarga, pada umumnya nonton di bagian dalam ndalem, yang sering dianggep nonton mburi kelir, nonton di belakang kelir ini memang benar-benar wewayangan atau bayang-bayang.
  • Gamelan adalah seperangkat alat musik yang mengiringi pagelaran wayang, jumlahnya sangat banyak antara lain bonang, gambang, gendang, gong, siter, kempul dan lain-lain. pamelan dimainkan secara bersama-sama membentuk alunan musik yang biasa disebut gending. Inilah seni kreasi musik dalam pagelaran wayang.
  • Debog adalah batang pisang yang digunakan untuk menancapkan wayang (simpingan). Di simping artinya. Baik yang dimainkan maupun yang dipamerkan (disply) menggunakan debog.
  • Blencong adalah lampu minyak kelapa (lenga klentik) yang khusus digunakan dalam pertunjukan wayang kulit. Design nya juga khusus, dengan cucuk (paruh) dimana diujung nya akan menyala api sepanjang malam. Oleh karena nya seorang penyimping harus mewaspadai pula keadaan agar lampu tidak mati atau pun terlalu besar. Sumbu belencong manakala meredup, atau bahkan mati sama sekali. Tidak boleh pula api itu berkobar terlalu besar, karena akan mobat-mabit. Kalaupun lampu penerangan untuk datang pada masa sekarang sudah menggunakan listrik, sesungguhnya ada fungsi dasar yang hilang atau dihilangkan dari penggunaan blencong tersebut. Oleh karena blencong adalah lampu minyak, maka api nya akan bergoyang manakala ada gerakan-gerakan wayang, lebih-lebih waktu perang yang digerakkan oleh ki dalang ada kesan bahwa ayunan api dari blencong itu seolah-olah memberikan nafas dan atau menghidupkan wayang itu sendiri.
  • Kotak wayang berukuran 1,5 meter kali 2,5 meter ini akan merupakan peralatan dalang selain sebagaimana sudah diutarakan merupakan tempat menyimpan wayang, juga sebagai ‘keprak’. Dari kotak tempat penyimpanan wayang ini juga akan dikeluarkan wayang, baik yang akan ditampilkan maupun yang akan sdisimpan.
  • Cempala merupakan piranti sekaligus ‘senjata’ bagi dalang untuk memberikan segala perintah, baik kepada wiraniaga, wiraswara maupun waranggana. Bentuknya sangat artistik, bagaikan meru.[6]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

[1] Ibid. Hlm. 26

[2] Budiono Herusatoto, Konsepsi Spiritual Leluhur Jawa (Yogyakarta: ombak, 2009), hlm 155-157

[3] Ibid. Hlm. 159

[4] Sujarno.dkk, op. Cit., hlm. 26-34

[5] Budiono Herusatoto, op. Cit.,hlm. 157

[6] Http://Wayanggokil.blogspot.com dikunjungi 8 november 2014

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s